Sebuah Perjalanan : Memahami, Menerima dan Mencintai Diri Sendiri

Membutuhkan waktu beberapa saat untuk menuliskan cerita ini, mengingat ini adalah sebuah tugas ospek yang harus kukerjaakan dengan deadline yang super padat, berada di masa transisi dari masa sma ke kuliah adalah hal yang sangat sulit bagiku, butuh waktu begitu panjang untuk berfikir kemungkinan kemungkinan yang akan terjadi beberapa waktu kedepan. Begitu juga dengan menulis cerita ini, berbagai kemungkinan hinggap dikepalaku, merasa nggak pede, takut di judge ini, takut dibilang sok. Padahal aku tau blog ini milikku, dan sudah menjadi hakku untuk menuliskan apapun di blog milikku ini.

Dan inilah aku,yang seringkali masih dihinggapi rasa takut akan pandangan orang lain terhadap diriku, yang seringkali abai akan pemahaman terhadap diriku, yang seringkali lupa untuk mencintai dan menerima diriku sendiri. Yang masih mencoba belajar. Pelajaran yang bagiku membutuhkan waktu seumur hidup. 

Kelak, jika ada saat dimana aku abai akan segala hal yang menjadi tujuan hidup, saat aku ada di titik terlemah atau bahkan terlengah, tulisan ini akan menjadi bukti sejauh mana pengorbanan yang telah kuusahakan, tulisan ini akan menjadi pengingat untuk menemukan kembali kekuatan dan semangat dalam diriku, karena kalau bukan diri sendiri yang menyemangati, siapa lagi? hehehe.

Perjalanan dimulai saat aku membaca buku karya Wirda Mansur, dimana saat itu aku sedang duduk di bangku SMP, tepatnya tahun kedua. Di buku itu tertera tulisan "Be Your Self" yang kala itu ku anggap sebagai motto hidup dan penyemangat paling ampuh. Pun seiring berjalannya waktu aku sadar bahwa penerapan kata itu tak semudah pengucapannya.

Dengan obsesi yang begitu besar akan segala kelebihan orang lain, pernah aku mencoba untuk meniru orang lain yang kuanggap baik, meniru gayanya, sikapnya, tanpa mengukur batas kemampuan yang ada dalam diriku. Bahkan akupun pernah berusaha untuk menjadi "normal" dimata orang meskipun aku merasa "itu bukan aku banget".

Saat itu, aku masih takut untuk menunjukkan bagaimana diriku yang sebenarnya, aku bahkan malu mengakui apa makanan favoritku, apa lagu kesukaanku dan segala hal yang kuanggap jauh berbeda dari  temanku kala itu, aku masih takut "melawan arus". Takut tidak diterima oleh lingkungan disekitarku.

Cukup lama untuk mengakui pada banyak orang bahwa aku memiliki kebiasaan yang berbeda dari beberapa orang yang kuanggap "normal". Sungguh sangat sulit untuk sekedar mengakui bahwa aku tidak meyukai lagu barat yang begitu mereka sukai. Hanya orang tertentu yang memahami segala hal tentangku secara utuh.

Aku juga pernah kecewa dengan kondisi wajahku. Yang kurasa nggak secantik dan menarik seperti perempuan lainnya. Pernah kecewa dengan bentuk tubuhku yang nggak proporsional. Dengan jerawat kecil, pori pori yang besar, hidung pesek bahkan jari jari tangan yang kurasa nggak selentik temanku. Pernah kecewa dan malu dengan apapun yang ada dalam diri ku.

Aku bahkan pernah jatuh sejatuh jatuhnya, saat perasaan minder mendominasi pikiranku. Minder dengan pencapaian orang yang melesat begitu jauh. Pernah minder kenapa aku nggak sepintar temanku. Atau bahkan dengan jurusan kuliah yang dipandang rendah oleh sebagian orang.Dan yang paling berat adalah saat dimana aku minder dengan segala keputusan yang aku ambil sendiri.

Selalu tampil kuat, dan berusaha menampakkan sisi baik saja. Mudah sekali nggak enakan sama orang, mengiyakan segala apa yang orang mau, hingga melupakan kepentingan diriku sendiri. Dan menolak segala macam emosi dalam diri hanya untuk sekedar terlihat baik dimata orang lain.

Yang saya pikirkan saat itu adalah, bagaimana orang lain bisa melihatku dengan segala prespektif kebaikan dalam diriku. Menyembunyikan jati diriku agar bisa diterima oleh orang lain.

Sampai pada saat aku ada dititik dimana aku sangat mengenali diriku, saat dimana aku merasa bahwa tak ada seorang pun didunia ini yang mengerti bagaimana kepribadian seseorang secara menyeluruh, saat dimana aku sangat mempercaya diriku bahwa akulah pemegang utama kendali dalam hidupku ini. Dan aku merasa bahwa "I'm not good enaugh" setiap saat. Hingga akhirnya akupun menyerah.

Aku menyerah untuk selalu kuat. Aku menyerah untuk memikirkan pencapaian orang lain yang sudah melesat jauh. Aku menyerah untuk memikirkan bentuk badan. Aku menyerah untuk memikirkan pendapat orang lain. Dan aku menyerah untuk memberikan standart hidupku kepada orang lain.

Proses memahami, menerima, dan mencintai diri sendiri ini, tanpa kusadari sudah berlangsung bertahun tahun lamanya. Setelah aku lulus dari jenjang SMA dan menghabiskan banyak waktu bersama keluarga serta berdiam diri dirumah karena adanya virus COVID 19. Aku berusaha untuk bermonolog pada diri sendiri, memahami segala macam ekspresi hati dan kemauan diri. Pun juga belajar dari banyak orang saat masa sekolah dan juga beberapa buku bacaan tentang self-love, barulah aku benar benar memahami dan menerima diriku secara utuh dan menyeluruh.

Pun kendati demikian, aku tidak pernah menyesal ketika harus mejalani semua itu. Ketika harus melewati minder dahulu untuk kemudian menjadi percaya diri. Karena jika tidak ada proses itu, mungkin aku tidak akan pernah berdiri setegak ini dan menuliskan semua ini. Atau bahkan aku tidak akan pernah memahami, menerima, dan mencintai diriku seutuh utuhnya, sesadar sadarnya.

Sekarang, meski masih terus mencoba, aku sudah tidak terlalu memikirkan pendapat orang lain, sesekali mungkin wajar tapi aku selalu punya cara untuk kembali menerima segala presepsi tentang diriku dan menjadikannya sebagai koreksi hidup. Menerima apapun yang telah digariskan Tuhan dengan ikhlas seikhlas ikhlasnya.

Saya pun menyadari bahwa setiap orang memiliki jalan hidup yang nggak akan pernah sama satu sama lain. Semua orang unik, semua orang hebat disaat yang tepat. Dan setiap orang punya cara untuk mengukir ceritanya masing masing.

Dan tak lupa ucapan terimakasih kepada diriku yang hingga detik ini masih terus berproses untuk tetap fokus pada potensi yang telah dianugrahkan oleh Yang Maha Hebat.

Terakhir, diluar penugasan ospek yang ada tulisan ini kutujukan untuk semua orang sedang merasa tidak berharga dan terkekang oleh standar yang diciptakan oleh orang lain, pun khususnya sebagai pengingat kepada diriku bahwa saya pernah seyakin dan sebahagia ini, ketika menerima segala kelebihan dan kekurangan pada diri ku seutuhnya. Dengan penuh kesadaran, tanpa penyesalan, tanpa harus takut akan tekanan dari pihak manapun. Menyayangi diri sendiri dalam berbagai keadaan tanpa ada rasa malu, kecewa apalagi minder. Karena aku ya, aku. Tak kan pernah jadi dia, atau mereka, karena setiap orang punya porsi hebat masing masing dalam hidupnya.

Salam Pemuda!
Salam Budaya!







Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tari Rancangkapti : Tarian Aset Budaya Khas Gresik

Membentuk Mental Sehat Generasi Penerus Religius Genius untuk Menyongsong Indonesia Emas 2045

Kegagalan Memahami Takdir