Porsi Hidup

 Aku selalu iri dengan mereka yang dilahirkan dari keluarga yang kaya. Rumah mewah dengan berbagai fasilitas yang memadai. Mau apapun tinggal tunjuk. Tidak seperti aku, untuk punya barang yang aku mau, aku harus menabung hingga berbulan-bulan.

 Hingga aku sadar, kalau tidak seperti itu, aku tidak akan pernah tau rasanya berjuang dan berusaha. 

 Aku iri dengan temanku yang bisa berkuliah di luar negri, bisa jalan-jalan di taman sakura, orchard street, hingga pantai Cairns. Aku juga pernah berusaha, jauh lebih keras usahanya dari mereka. Kenapa mereka dengan mudah dapat izin dari orang tua? Kenapa mereka dapat dengan mudah lulus tes, diterima, dapat beasiswa? Tidak seperti aku yang harus gagal berkali-kali atau bahkan gagal lebih dulu hanya karena finansial dan perizinan orang tua. Kenapa semua urusan orang lain terlihat mudah? Kenapa dunia selalu terlihat tidak adil? Aku juga mau seperti mereka.

  Sampai sini aku ingin kamu berhenti sejenak, tarik napas dalam-dalam. I wanna bring you to another place. Sekarang ayo kita keluar rumah, bawa pesan ini bersamamu. Mari nikmati sejuknya udara sore, lihat keramaian jalan, lihatlah pepohonan, dan birunya langit. Perhatikan setiap lekuk awan yang terbentuk di langit, seperti begitu acak dan asimetris.

   la tidak punya standar untuk menjadi indah. awan akan tetap menjadi awan, indah dengan bentuk yang dia buat sendiri. Dia buat standar indahnya sendiri, tanpa harus takut akan standar indahnya orang lain.

    Lihat, awan tetap bahagia kan? Terus, kenapa kita kalah dengan awan? Kenapa kita masih harus mengkhawatirkan jadi apa nanti kita yang berdasarkan standar orang? 

    Lihat Bill Gates, dia mempelajari bahasa pemrograman saat teknologi belum dikenal orang. la mendirikan Microsoft pada tahun 1975. Siapa yang tau internet kala itu? JK Rowling salah satu orang terkaya di UK. Dia gaperlu jadi pengusaha untuk kaya. Bahkan menulispun tidak pernah menjadi pekerjaan yang menjanjikan.

    Hingga seketika aku sadar bahwa semua ini memang direncanakan hanya untukku. Kalau tidak begitu, aku tidak akan belajar untuk lebih bersyukur. Rumput tetangga memang akan selalu terlihat lebih indah. "Life is too short to live in people's life". Setiap orang itu keren dengan caranya sendiri. Maka jadilah keren dengan caramu sendiri, dan buat orang lain mengharapkan hidupmu. Aku juga percaya pada salah satu kalimat. "Setiap yang bernyawa pasti diberi rejeki". Rejekiku, sudah Allah jamin. Lantas apalagi yang ku takuti?

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tari Rancangkapti : Tarian Aset Budaya Khas Gresik

Membentuk Mental Sehat Generasi Penerus Religius Genius untuk Menyongsong Indonesia Emas 2045

Kegagalan Memahami Takdir