Buku Takdir
Kucoba membuka lembaran baru pada buku berjudul 2021. Saat ini aku tengah menginjak halaman pertama dari 365 halaman yang alurnya tak bisa aku tebak sedikitpun. Dan dari buku berjudul 2020 yang telah aku tuntaskan sebelumnya, aku tau sedikit bahwa, buku buku yang telah, sedang dan akan kubaca ini adalah sebuah "buku takdir".
Kucoba lagi berfikir tentang apa yang terjadi pada lembar pertama dibuku ini, alur sang Penulis sangat menggemaskan. Meski demikian, satu hal yang aku garis bawahi adalah buku ini sangat ajaib, Sang Penulis dengan senang hati merevisi tulisannya jika kita mau dan mampu untuk menkritik dengan segala usaha dan kerja keras, semacam negosiasi rupanyanya, agar episode dalam lembar berikutnya tidak seburuk episode saat ini. Karena itu, di halaman pertama ini kucoba untuk bernegosiasi kepada Sang Penulis, dengan membuat list harapan dan kesungguhan usaha, untuk sedikit "berjaga-jaga" barangkali akan ada episode menyebalkan yang terjadi di halaman berikutnya.
Keberanianku untuk bernegosiasi dengan Sang Penulis Buku 2021 ini, tidak lepas dari peran buku 2020 yang telah mengajarkanku banyak hal, buku yang mengenalkanku akan arti penting kebahagiaan diri, buku yang membukakan mataku akan betapa pentingnya kesungguhan dan doa, serta buku yang membawaku ke titik terkuat saat ini, titik permulaan yang kucoba untuk memulainya dengan kebaikan, seperti halnya apa yang tertuang dalam sepenggal kata di atas "Awal yang baik adalah awal dari kesuksesan". Dari titik ini, dan dari tulisan ini akan kubuka lembaran lembaran baru dengan penuh harap, usaha dan suka cita. Akan kubuka setiap lembar dengan penuh semangat karena aku tau aku pasti bisa, karena aku tau aku berjalan denganNya, Sang Penulis Skenario Hebat.
2020 Storybook
Hari itu, tak ada harap lebih seperti tahun tahun sebelumnya atau mungkin setelahnya. Awal tahun yang begitu menyedihkan, lembaran baru yang dimulai dari keputus asa an. Meski sebenarnya aku terlihat kuat dan terlihat memiliki tujuan, namun nyatanya tujuan itu sungguh membuat aku terpukul berat.
Saat itu aku memutuskan untuk Gap Year karena suatu alasan, aku sangat yakin dengan keputusanku, dengan tujuan yang aku yakini membawaku pada kebahagiaan. Namun sungguh disaat itu juga, perasaanku campur aduk. Remuk redam, pupus bersama harap dan mimpi. Walau aku tau, alur terbaik hanya milik Penulis skenario dari buku itu.
Dan di bab berikutnya, di bulan Februari khusunya, aku dibuat sangat terkejut dengan alur yang dibuat oleh Sang penulis. Saat itu juga, sesungguhnya rasa percaya diriku sudah kembali, aku sudah sangat yakin dengan keputusan awalku dan tidak bersedih sedikitpun. Namun sekali lagi, aku dibuat simalakama akan sebuah keputusan. Keputusan yang ternyata berbalik 180 derajat, aku mundur dari tujuan awalku dan memilih melangkah ke suatu arah yang tak pernah sedikitpun ku bayangkan.
Kuputuskan untuk mengambil SNMPTN dan SPANPTKAIN. Jujur saat itu aku bingung, aku tidak pernah sedikitpun survive tentang jurusan perkuliahan di universitas manapun karena memanf bukan menjadi tujuan. Sekalipun aku survive, dan ingin lanjut studi di tahun berikutnya, aku sangat yakin untuk melanjutkan studi ke luar negri lebih tepatnya ke Mesir.
Tapi lagi lagi, Penulis buku itu membawaku pada rentetan takdir yang memukau. Di Bulan Maret, terdengar kabar mengenai penyakir dari Kota Wuhan menyebar di Indonesia, sontak ramai sekolah diliburkan hingga kamu terpaksa harus dipulangkan dan lulus seketika. Kami di cap sebagai "Lulusan Corona", sungguh memilukan harus berpisah dengan teman dengan cara yang menurut kamu kurang berkesan, harus lulus cuma cuma karena sebuah bencana, meski sebenarnya ini sungguh keberuntungan luar biasa bagi angkatan kami, karena tidak perlu repot repot mengerjaka ujian kelulusan heheh. Tapi berpisah di waktu yang tidak terduga tetaplah berkesan menyedihkan. Kita terpaksa meniadalan momen sakral di akhir taun masa pembelajaran. Yaitu momen Wisuda. Disamping persoalan kami, Indonesia kala itu dibuat gundah dengan datangnya Virus baru yang membuat kami harus berdiam diri di rumah, dan tidak pernah kusangka akan berlangsung hingga detik ini.
Namun di Bulan April, kabar gembira memberiku sedikit titik terang, aku dinyatakan lolos di kedua jalur yang aku ikuti. Meskipun, sebelum hari H, masih ada konflik dengan orang tua yang lagi lagi membuatku simalakama, dan akhirnya kuputuskan untuk memilih Brawijaya sebagai pelabuhan di bab selanjutnya.
Segalanya berjalan dengan baik, meski ospek sebagai momen sakral pertama mahasiswa harus dilaksanakan secara online tapi aku dipertemukan dengan banyak sekali orang orang hebat dan luar biasa baik. Lagi lagi meskipun tak lepas dari permasalahan dan konflik yang pelik. Tapi aku tetap sangat bersyukur dan bahagia.
Kali ini pun aku yakin sepenuh hati bahwa, Skenario Penulis Buku ini memang sangat Hebat dan Luar Biasa. Segalanya terlihat begitu susah, namun tak pernah lepas Ia hadirkan bahagia, segalanya tampak tak terkendali, tapi Ia dengan sigap hadirkan solusi. Sungguh Indah alur yang telah kutuntaskan di Buku 2020 itu.
Karena itulah aku memilih jalan baik ini, karena itulah aku mulai awal yang luar biasa ini, dan karena itulah aku menulis di blog ini. Harapku, blog kecil ini mampu untuk menjadi media awal bagiku, untuk terus berkembang dan berjalan menuju arah yang aku semogakan.
Dari 2020 aku belajar, bahwa hidup bukan sekedar ajang kompetisi yang harus selalu menjadi Juara. Setiap orang memiliki porsi masing masing dan aku yakin bahwa diriku hebat. Sungguh, terimakasih diriku untuk setiap langkah berat yang telah menemui tujuannya, terimakasih untuk usaha berat yang telah terlewati. Kamu Hebat dan luar biasa. Aku pun sadar bahwa, buku takdir yang sedang, telah dan akan aku buka adalah media yang disuguhkan agar diri ini selalu berusaha untuk memperbaiki apa yang perlu untuk diperbaiki, menjadikan setiap lembarnya menjadi hidup dan istimewa. Tidak hanya tampak dari luar.
Dari 2020 aku belajar, menapaki jurang jurang yang akan kutemui di 2021 agar selalu kuat untuk menjadi hebat, dengan porsi masing masing.
Hai 2021, Do Your Magic!!
FINISH WHAT YOU STARTED 📌
Kucoba lagi berfikir tentang apa yang terjadi pada lembar pertama dibuku ini, alur sang Penulis sangat menggemaskan. Meski demikian, satu hal yang aku garis bawahi adalah buku ini sangat ajaib, Sang Penulis dengan senang hati merevisi tulisannya jika kita mau dan mampu untuk menkritik dengan segala usaha dan kerja keras, semacam negosiasi rupanyanya, agar episode dalam lembar berikutnya tidak seburuk episode saat ini. Karena itu, di halaman pertama ini kucoba untuk bernegosiasi kepada Sang Penulis, dengan membuat list harapan dan kesungguhan usaha, untuk sedikit "berjaga-jaga" barangkali akan ada episode menyebalkan yang terjadi di halaman berikutnya.
Keberanianku untuk bernegosiasi dengan Sang Penulis Buku 2021 ini, tidak lepas dari peran buku 2020 yang telah mengajarkanku banyak hal, buku yang mengenalkanku akan arti penting kebahagiaan diri, buku yang membukakan mataku akan betapa pentingnya kesungguhan dan doa, serta buku yang membawaku ke titik terkuat saat ini, titik permulaan yang kucoba untuk memulainya dengan kebaikan, seperti halnya apa yang tertuang dalam sepenggal kata di atas "Awal yang baik adalah awal dari kesuksesan". Dari titik ini, dan dari tulisan ini akan kubuka lembaran lembaran baru dengan penuh harap, usaha dan suka cita. Akan kubuka setiap lembar dengan penuh semangat karena aku tau aku pasti bisa, karena aku tau aku berjalan denganNya, Sang Penulis Skenario Hebat.
2020 Storybook
Sebuah buku setebal 366 halaman, yang baru saja aku selesaikan. Sebuah buku yang memberiku banyak sekali kekutan luar biasa.
Hari itu, tak ada harap lebih seperti tahun tahun sebelumnya atau mungkin setelahnya. Awal tahun yang begitu menyedihkan, lembaran baru yang dimulai dari keputus asa an. Meski sebenarnya aku terlihat kuat dan terlihat memiliki tujuan, namun nyatanya tujuan itu sungguh membuat aku terpukul berat.
Saat itu aku memutuskan untuk Gap Year karena suatu alasan, aku sangat yakin dengan keputusanku, dengan tujuan yang aku yakini membawaku pada kebahagiaan. Namun sungguh disaat itu juga, perasaanku campur aduk. Remuk redam, pupus bersama harap dan mimpi. Walau aku tau, alur terbaik hanya milik Penulis skenario dari buku itu.
Dan di bab berikutnya, di bulan Februari khusunya, aku dibuat sangat terkejut dengan alur yang dibuat oleh Sang penulis. Saat itu juga, sesungguhnya rasa percaya diriku sudah kembali, aku sudah sangat yakin dengan keputusan awalku dan tidak bersedih sedikitpun. Namun sekali lagi, aku dibuat simalakama akan sebuah keputusan. Keputusan yang ternyata berbalik 180 derajat, aku mundur dari tujuan awalku dan memilih melangkah ke suatu arah yang tak pernah sedikitpun ku bayangkan.
Kuputuskan untuk mengambil SNMPTN dan SPANPTKAIN. Jujur saat itu aku bingung, aku tidak pernah sedikitpun survive tentang jurusan perkuliahan di universitas manapun karena memanf bukan menjadi tujuan. Sekalipun aku survive, dan ingin lanjut studi di tahun berikutnya, aku sangat yakin untuk melanjutkan studi ke luar negri lebih tepatnya ke Mesir.
Tapi lagi lagi, Penulis buku itu membawaku pada rentetan takdir yang memukau. Di Bulan Maret, terdengar kabar mengenai penyakir dari Kota Wuhan menyebar di Indonesia, sontak ramai sekolah diliburkan hingga kamu terpaksa harus dipulangkan dan lulus seketika. Kami di cap sebagai "Lulusan Corona", sungguh memilukan harus berpisah dengan teman dengan cara yang menurut kamu kurang berkesan, harus lulus cuma cuma karena sebuah bencana, meski sebenarnya ini sungguh keberuntungan luar biasa bagi angkatan kami, karena tidak perlu repot repot mengerjaka ujian kelulusan heheh. Tapi berpisah di waktu yang tidak terduga tetaplah berkesan menyedihkan. Kita terpaksa meniadalan momen sakral di akhir taun masa pembelajaran. Yaitu momen Wisuda. Disamping persoalan kami, Indonesia kala itu dibuat gundah dengan datangnya Virus baru yang membuat kami harus berdiam diri di rumah, dan tidak pernah kusangka akan berlangsung hingga detik ini.
Namun di Bulan April, kabar gembira memberiku sedikit titik terang, aku dinyatakan lolos di kedua jalur yang aku ikuti. Meskipun, sebelum hari H, masih ada konflik dengan orang tua yang lagi lagi membuatku simalakama, dan akhirnya kuputuskan untuk memilih Brawijaya sebagai pelabuhan di bab selanjutnya.
Segalanya berjalan dengan baik, meski ospek sebagai momen sakral pertama mahasiswa harus dilaksanakan secara online tapi aku dipertemukan dengan banyak sekali orang orang hebat dan luar biasa baik. Lagi lagi meskipun tak lepas dari permasalahan dan konflik yang pelik. Tapi aku tetap sangat bersyukur dan bahagia.
Kali ini pun aku yakin sepenuh hati bahwa, Skenario Penulis Buku ini memang sangat Hebat dan Luar Biasa. Segalanya terlihat begitu susah, namun tak pernah lepas Ia hadirkan bahagia, segalanya tampak tak terkendali, tapi Ia dengan sigap hadirkan solusi. Sungguh Indah alur yang telah kutuntaskan di Buku 2020 itu.
Karena itulah aku memilih jalan baik ini, karena itulah aku mulai awal yang luar biasa ini, dan karena itulah aku menulis di blog ini. Harapku, blog kecil ini mampu untuk menjadi media awal bagiku, untuk terus berkembang dan berjalan menuju arah yang aku semogakan.
Dari 2020 aku belajar, bahwa hidup bukan sekedar ajang kompetisi yang harus selalu menjadi Juara. Setiap orang memiliki porsi masing masing dan aku yakin bahwa diriku hebat. Sungguh, terimakasih diriku untuk setiap langkah berat yang telah menemui tujuannya, terimakasih untuk usaha berat yang telah terlewati. Kamu Hebat dan luar biasa. Aku pun sadar bahwa, buku takdir yang sedang, telah dan akan aku buka adalah media yang disuguhkan agar diri ini selalu berusaha untuk memperbaiki apa yang perlu untuk diperbaiki, menjadikan setiap lembarnya menjadi hidup dan istimewa. Tidak hanya tampak dari luar.
Dari 2020 aku belajar, menapaki jurang jurang yang akan kutemui di 2021 agar selalu kuat untuk menjadi hebat, dengan porsi masing masing.
Hai 2021, Do Your Magic!!
FINISH WHAT YOU STARTED 📌
Komentar
Posting Komentar